Selasa, 22 September 2009
Label: Vespa Pantai
Kamis, 17 September 2009
bingung mau nulis apa?? bis baca" tulisannya Om Hengky sahabat dari Pemalang ini jadi rada tersentuh hati juga nehh... "Rats Scooter", dah hampir 5 tahun diriku ni berkenalan dengan yang namanya Rats Scooter. Pertama kalinya yaa, ketika broth Amar (Pekalingan) bawa Scooter Chopp Gembelnya ke Kampus... Hahaa... Rame dech.. mana knalpot'a thea khan mani gandeng pisaan... tapi sayang tuch Chopp dah pindah tangan dan jadi Chopp rapih.. Semenjak gw di UIN (Djavu) semakin bertambahlah referensi Scooter Gembel di benak gw.. Yaa, pokoknya mah semua yg ada ditulisannya Mas Hengky Kik benerr lah.. Sempeth ngerasaain itu semuaa.. Pengalaman bersama Saudara" Scooterist Pamulang, Ciputat, Ciledug tak pernah bisa terlupakan.




Hampir setahun terakhir jalan bareng Peli (PSI), Begeng (Pamulang) ke Timur dengan Rats Sespannya itu Lebaran tahun lalu bener" pengen ku ulang kembali tahun ini., Tapi kayanya ruang dan waktu sekarang dah Gak ngedukung lagi euy... Sedihhh...
Label: Catatan Akhir Ramadhan
Rabu, 16 September 2009
Tulisan ini di ambil dari Vespa Style Never Last
Perlawanan Vespa Gembel (Rats Scooter)

Komunitas ini mudah dikenali. Mereka umumnya mengendarai vespa rombeng tahun 1980-an atau 1995-an yang dimodifikasi sesuka hati hingga bentuknya aneh-aneh.
Ciri lain, vespa model begini dekilnya minta ampun. Maklum, penggemarnya sengaja tidak mencucinya berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Tampilan vespa kian kumuh karena penggemarnya kerap menempelkan aneka ”sampah” di vespa mereka, mulai dari karung goni, gombal, drum bekas, galon air, sandal jepit, CD, selongsong mortir, botol infus, tengkorak sapi, hingga (maaf) celana dalam.batu nisan dll
”Pokoknya makin gembel makin keren. Itu berarti vespanya sering dipakai untuk keliling daerah,” ujar Romany alias Tentara Tebu (26), anggota BSC, sebuah klub vespa di Tegal Jawa Tengah
Dia memiliki sebuah vespa yang dimodifikasi hingga panjangnya mencapai 5,6 meter. Saking panjangnya, kalau mau belok di tikungan tajam, vespa yang dibalut karung goni itu harus digotong beramai-ramai.
Tidak hanya rupa vespanya, tampilan sebagian penunggangnya pun sama acak-acakannya. Lihatlah Abi alias Brekele (22), anggota Banten Independent Touring Scooter (BITS). Rambutnya kribo tak karuan seperti sayuran brokoli.hengky kik ( SIP ) Pemalang dengan jaket lusuhnya . Tengok juga Arief (23) dari Scooter Tanpa Nama (STN) Ciledug atau Kimoy dari Maskot yang berambut gimbal dan berpakaian lusuh.
Kebebasan
Mengapa mereka mau menggembel-gembelkan diri? Ternyata ini ada kaitannya dengan faham kebebasan yang mereka anut. Mereka ingin merombak pandangan orang yang sering menilai orang lain dari penampilan luarnya.
”Kami ingin buktikan bahwa orang yang berpenampilan gembel hatinya belum tentu jahat,” tutur Tape, anggota Asbes Brebes.Dia tahu persis bagaimana sakitnya disepelekan hanya karena penampilannya. Ketika dulu, dia kerap ditolak orangtua pacarnya karena rambutnya gondrong, suka memakai jaket belel, dan celana yang sobek di sana-sini.
Dengan vespa gembel, komunitas ini bisa dengan bebas mengekspresikan diri. ”Kalau orang kaya bisa pamer kemewahan, kita bisa pamer kegembelan,” ujar Aditiya Lukmansyah alias Ableh (24), Ketua Maskot, sambil tersenyum.begitu dengan Jack atau biasa di panggil Pak Jack dari GAM semarang dengan rambut gimbal dan tato di sekekujur muka dan badannya ..peduli amat ama orang lain
Dia mengaku senang sekali jika sedang tur berpapasan dengan rombongan penggemar motor mewah. ”Ternyata orang di pinggir jalan lebih banyak yang ngeliatin kita daripada ngeliatin kelompok motor mewah. Kalau enggak pake vespa gembel, mana ada yang mau memerhatikan kita,” ujar Ableh.
Kebanyakan penggemar vespa gembel memang berasal dari kelompok menengah ke bawah,walaupun sekarang banyak dari kalangan keatas yang suka sama vespa. Mereka umumnya pengangguran, mahasiswa, atau buruh serabutan. Meski ada pula yang berprofesi sebagai seniman, guru, atau pemilik bengkel.
Di dunia nyata, kelas ini sering kali dipandang sebelah mata. Mereka kerap diabaikan dan dipinggirkan. Nah, lewat vespa gembel mereka menciptakan ruang ekspresi sendiri lantas merebut perhatian orang lain.
Lewat kegembelannya, mereka menyelipkan semacam semangat demokrasi di jalanan. Bagi mereka, jalanan yang sering digunakan orang-orang kaya untuk memamerkan mobil dan motor mewah, juga harus bisa menjadi ruang bagi rakyat jelata berkantong cekak.
Lantas bagaimana kita memandang komunitas semacam ini? Ketika kita melihat komunitas ini, sebenarnya kita sedang melihat sebentuk perlawanan rakyat jelata kepada pihak-pihak berkuasa yang gemar memuja kemewahan. Kegembelan mereka adalah antitesis dari parade kemewahan di sekitar kita.
Tidak heran, jika komunitas ini tumbuh subur di hampir semua daerah pinggir kota, seperti Ciledug, Pamulang, Bekasi, Depok, Subang, Lampung, dan pemalang,pekalongan,semarang . Mereka menandai keberadaannya antara lain lewat kegiatan nongkrong setiap minggu.

Komunitas vespa di kawasan Ciputat dan Pamulang biasanya nongkrong di seberang Hero Pamulang tiap malam minggu dan di depan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah tiap Rabu malam. Komunitas vespa Ciledug biasa nongkrong di depan perumahan Puri Beta dan Alfa Bintaro tiap malam minggu.,di pemalang setiap malam minggu di seputaran alun-alun
Mereka membentuk jejaring yang kuat hingga ke kota-kota lain di luar Pulau Jawa.,bahwa lintas luar jawa dan Sumatra Mereka saling mengunjungi, saling membantu, bahkan saling mendoakan.
Label: Rats Scooter
Undangan buat semua keluarga Djavu tuk hadir pada acara buka puasa bareng and silaturahmi di kediaman Pane, hari Jum'at 18, september 2009, kumpul di UIN jam 3 sore.
Co : Bogel : 021-94438612
Pane : 021-92704221
Farid : 081399983251
Label: Buka Bareng






